Internet dan Pola Pikir (Bincang dengan Alexander Antonius Wattimena)

Ada dua permasalahan mengenai internet, yang ingin kami perbincangkan, yaitu: informasi hoax dan pola pikir

Repro: @muafaelba/@pmiisemarang

Ada dua permasalahan mengenai internet, yang ingin kami perbincangkan, yaitu: seputar informasi hoax dan pengaruhnya terhadap pola pikir, dan seputar kemudahan akses internet yang menyebabkan pola pikir instan.

Kami memilih bapak Reza A.A Wattimena sebagai narasumber, karena beliau juga tengah menjalankan dan mengembangkan program “Sudut Pandang”. Dan menurut kami, ini sesuai dengan tema yang ingin kami perbincangkan, masalah pola pikir. Berikut adalah hasil wawancara kami dengan beliau via email.

A. Informasi Hoax & Pengaruhnya terhadap Pola Pikir

Perkembangan teknologi komunikasi memudahkan seseorang untuk mencari dan mempublish sebuah informasi. Berkat perkembangan ini, banyak media pemberitaan yang menjamur. Ada yang merupakan perpanjangan dari media cetak, dan ada yang tidak mempunyai versi cetak, dan yang terakhir ini jumlahnya lebih banyak. Tentu, hal ini akan memudahkan kita dalam memperkaya wawasan, jika media yang ada semuanya menyajikan informasi yang valid. Permasalahannya, tidak semua media mempunyai kredibilitas. Banyak media online yang menyajikan informasi hoax.
Pola pikir seseorang ditentukan oleh apa yang mereka serap, informasi. Dan jika informasi hoax terus membanjir, bukankah akan sangat berbahaya?

Menurut bapak, apa penyebab dari maraknya orang mempublish dan mengeshare informasi hoax?

Miskinnya pemikiran kritis yang memang tidak pernah diajarkan kepada kita. Sistem pendidikan kita tidak mengajarkan kita untuk mempertanyakan informasi, tetapi hanya menelannya mentah-mentah. Seni berpikir kritis adalah seni mempertanyakan semua hal yang kita terima dari lingkungan sosial kita, mengkajinya dengan akal sehat, lalu memutuskan, apakah informasi ini bisa dipercaya, atau tidak. Miskinnya berpikir kritis ini ditambah dengan gemarnya orang Indonesia akan hal-hal heboh yang dangkal. Ini menciptakan budaya gosip dan fitnah yang tidak cocok untuk terciptanya hidup bersama yang harmonis dan demokratis.

Dan apa saja ekses negatif dari membludaknya informasi hoax?

Keresahan yang tidak perlu. Orang hidup dalam ketakutan dan kecemasan yang tidak punya dasar di kenyataan. Kedua hal ini akan membuat suasana hidup bersama menjadi tidak enak. Perpecahan dan konflik adalah buahnya. Jika bangsa kita pecah, karena ketakutan, keresahan dan fitnah, kita akan mudah dipergunakan oleh bangsa lain untuk memperkaya diri mereka. Ini yang sedang terjadi sekarang ini: bangsa kita dipecah oleh berbagai hoax dan fitnah yang menyentuh soal SARA, lalu berbagai sumber daya ekonomi dan alam kita secara diam-diam dikuasai pihak asing.

Bapak Reza, anda pernah melakukan perjalanan ke Jerman untuk urusan akademik belum lama ini, apakah di sana (Jerman) juga terjadi hal serupa, membanjirnya informasi hoax? dan kenapa?

Menyebarnya hoax ini gejala yang cukup internasional. Banyak gosip dan fitnah yang tersebar di Jerman. Namun, orang tidak gampang percaya. Jadi, semua gosip dan fitnah tersebut tidak memiliki pengaruh besar di masyarakat. Ini mungkin karena sistem pendidikan Jerman yang terbiasa melatih warganya untuk berpikir kritis. Namun, keresahan dan ketakutan juga cukup tersebar disana, terutama terkait dengan tegangan NATO dengan Russia belakangan ini. Ini memang bukan berita hoax, tetapi sungguh merupakan fakta yang patut untuk diperhatikan bersama. Konflik NATO dan Russia berarti perang dunia.

Menurut bapak, apa saja pengaruh informasi hoax terhadap pola pikir pembaca? dan sejauh mana pengaruh itu?

Hoax jelas menghasilkan kecemasan dan ketakutan yang tidak perlu. Orang takut dan cemas cenderung untuk irasional. Keputusan dan tindakan mereka pun lalu menjadi tidak rasional. Ini bisa menyebabkan konflik dengan orang lain yang merusak tatanan hidup bersama. Di masyarakat yang miskin pemikiran kritis, seperti Indonesia, pengaruh ini amat jelas terasa. Hoax bisa membuat roda politik, sosial dan ekonomi kita bergerak ke arah yang tidak masuk akal, dan justru merusak kehidupan bersama.

Lantas, bagaimana filsafat (sebagai bidang keilmuan yang sedang bapak geluti) memandang informasi hoax? dan bagaimana untuk mengatasinya?

Filsafat, bisa dikatakan, merupakan ilmu yang mengedepankan seni berpikir kritis dan rasional untuk memahami segala yang terjadi di dunia. Di hadapan filsafat, hoax akan otomatis terlihat sebagai hoax, lalu kehilangan pengaruhnya yang merusak. Jika orang mendalami filsafat secara sistematis, kritis dan rasional, ia tidak akan terpengaruh oleh fitnah, gossip maupun hoax yang tersebar di masyarakat. Dari kaca mata ini, saya bisa bilang, bangsa Indonesia amat membutuhkan pendidikan filsafat yang bermutu sekarang ini.

Menurut bapak, apa yang seharusnya dilakukan pemerintah, dan kita sendiri, untuk membendung informasi yang tidak jelas viliditasnya tersebut?

Pemerintah jelas harus menjalankan fungsinya untuk membendung berita-berita palsu yang tersebar di masyarakat. Kantor-kantor berita palsu, baik online maupun cetak, harus segera diberantas. Ada bahaya lainnya, yakni sensor yang berlebihan, sehingga menghancurkan kebebasan berpikir dan berpendapat. Nah, pemerintah harus cukup peka membedakan antara memberantas berita palsu di satu sisi, dan membatasi kebebasan berpikir dan berpendapat secara semena-mena di sisi lain. Yang satu harus terjadi. Namun, jangan sampai yang kedua yang terjadi. Selain itu, sistem pendidikan kita juga harus memberi ruang besar untuk melatih berpikir kritis, dimulai dengan pendidikan para calon guru. Anda bisa lihat tulisan terbaru saya di www.rumahfilsafat.com yang berjudul “Pendidikan Salah Kaprah”. Inti dari seni berpikir kritis adalah berani bertanya. Kita bisa melakukan itu mulai sekarang: bertanya tentang kebenaran dari semua informasi yang kita terima dari luar dengan menggunakan akal sehat dan nurani yang kita punya.

B. Kemudahan Akses dan Pola Pikir Instan

Internet memudahkan kita untuk mengakses berbagai hal, karena banyak konten yang terpampang di sana. Kita bisa mengakses sebuah hiburan, informasi, sampai materi pendidikan. Semuanya ada di internet. Tetapi kemudahan akses ini juga memiliki dampak negatif, di antaranya adalah pola pikir instan. Banyak orang yang secara instan mendownload tugas akademik, mentranslit bahasa asing dengan google translate, dan lain sebagainya. Jika hal ini terus berlanjut dan meluas, maka akan terjadi era ‘malas belajar dan berfikir’. Bukankah ini merisaukan?

Bagaimana tanggapan bapak tentang pemanfaatan internet secara negatif, seperti mendownload beberapa tugas akademik?

Ini jelas resiko yang harus kita ambil dengan keberadaan internet sebagai gudang informasi dunia. Jalan keluar dari masalah ini cuma satu, yakni membangun sistem. Pertama, para pengguna internet harus dilatih cara mengutip sumber, baik secara langsung maupun tidak. Ini bagian dari seni menulis ilmiah. Kedua, para peserta didik, dan juga para guru maupun dosen, harus dilatih untuk berpikir mendalam tentang segala sesuatu. Pendidikan filsafat yang bermutu tinggi memainkan peranan penting disini. Tiga, kita juga harus membangun sistem untuk mengecek hasil karya yang ada, supaya bisa terbebas dari plagiarisme. Ketiga hal ini adalah sebuah proses yang harus dilakukan secara bertahap, namun pasti. Hanya dengan begini, kita bisa menggunakan internet sebagai alat bantu yang efektif, dan menjaga jarak dari sisi gelapnya.

Kami melihat bahwa kemudahan akses ini akan menyebabkan pola pikir instan, orang tidak lagi berpikir keras untuk menyeleseikan suatu hal, orang tidak lagi giat menghafalkan suatu rumus atau bahasa asing, karena sudah tersedia di internet. bagaimana menurut bapak?

Sekali lagi, inilah sisi gelap dari internet secara khusus, maupun sisi gelap dari perkembangan teknologi secara umum. Kita mau semua serba cepat. Proses tidak diperhatikan. Hasil menjadi tujuan utama. Mental koruptor adalah versi ekstrem dari pola berpikir instan. Orang mau menjadi kaya tidak dengan usaha dan kesabaran, tetapi dengan mencuri, apalagi mencuri uang rakyat. Ini jelas merupakan sebuah gejala sosial yang harus ditanggapi secara kritis secara terus menerus. Salah satu jalan keluarnya adalah dengan membangun sistem, seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Namun, bidang-bidang lainnya tentu memerlukan jalan keluar yang lebih sesuai.

Menurut bapak, sejauh mana bahaya pola pikir instan bagi dunia pendidikan, masyarakat dan Indonesia?

Pola pikir instan akan menghasilkan mental koruptor, seperti saya jelaskan sebelumnya. Orang mau kaya, tetapi tidak mau usaha dan bersabar di dalam proses. Gandhi menjabarkan tujuh dosa sosial. Saya melihat, pola pikir instan akan menghasilkan orang-orang yang sesuai dengan penggambaran tujuh dosa sosial tersebut: kekayaan tanpa kerja, politik tanpa prinsip, agama tanpa pengorbanan, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, bisnis tanpa moralitas, pengetahuan tanpa karakter dan kenikmatan tanpa suara hati. Jika mayoritas dari kita seperti ini, maka seluruh susunan masyarakat akan hancur. Kita akan hidup dalam konflik dan ketegangan terus menerus.

Menurut bapak, Apa formula yang tepat dalam mengatasi hal di atas, pemanfaatan internet secara negatif dan pola pikir instan?

Jalan keluar paling baik adalah dengan membangun sistem yang mendorong orang untuk mampu berpikir mendalam, dan bertindak penuh tanggung jawab dalam hidupnya, termasuk dalam soal penggunaan informasi. Pendidikan filsafat yang bermutu tinggi jelas memainkan peranan amat penting dalam hal ini. Membangun sistem tidak bisa dilakukan secara instan, apalagi jika kita ingin mengritisi budaya instan yang tersebar di masyarakat kita. Membangun sistem adalah proses yang membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak.

Biodata Singkat Reza Alexander Antonius Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi “Sudut Pandang“. Penulis dan Peneliti di bidang Filsafat Sosial-Politik, Pengembangan Organisasi dan Kepemimpinan, Filsafat Ilmu Pengetahuan serta Filsafat Timur, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München Jerman dengan disertasi berjudul Zwischen kollektivem Gedächtnis, Anerkennung und Versöhnung. Untuk lebih lengkapnya, seperti melihat karya-karyanya, bisa lihat di website beliau, www.rumahfilsafat.com


DPTI PC PMII Semarang

COMMENTS

Name

agenda,12,artikel,44,bincang,2,cyberia,4,ke-pmii-an,18,kebangsaan,2,Opini,31,pendaftaran,1,pendidikan,1,PMIITV,6,pustaka,9,rilis,5,warta,8,
ltr
item
PMII Semarang: Internet dan Pola Pikir (Bincang dengan Alexander Antonius Wattimena)
Internet dan Pola Pikir (Bincang dengan Alexander Antonius Wattimena)
Ada dua permasalahan mengenai internet, yang ingin kami perbincangkan, yaitu: informasi hoax dan pola pikir
https://4.bp.blogspot.com/-z9DoczyG2ho/WMNggmp-EYI/AAAAAAAAAYo/Hp511EkHnewO4tJlyl3OVShTWGef_huogCLcB/s640/bincang.png
https://4.bp.blogspot.com/-z9DoczyG2ho/WMNggmp-EYI/AAAAAAAAAYo/Hp511EkHnewO4tJlyl3OVShTWGef_huogCLcB/s72-c/bincang.png
PMII Semarang
https://www.pmiisemarang.or.id/2017/03/internet-dan-pola-pikir-bincang-dengan.html
https://www.pmiisemarang.or.id/
https://www.pmiisemarang.or.id/
https://www.pmiisemarang.or.id/2017/03/internet-dan-pola-pikir-bincang-dengan.html
true
4367216603084741449
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy