Pentingnya Kader PMII Mendaku 'Kiri'

Penulis sama sekali tidak mempermasalahkan kader-kader PMII yang mendaku kiri, toh itu bagian dari sebuah fase proses sebuah kader.

Penulis sama sekali tidak mempermasalahkan kader-kader PMII yang mendaku kiri, toh itu bagian dari sebuah fase proses sebuah kader.
Sumber gambar: https://richadparkur.wordpress.com

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sudah berumur 57 tahun sebuah umur yang tidak lagi muda untuk sekelas organisasi mahasiswa. PMII adalah organisasi Mahasiswa berhaluan Aswaja yang berbasis pengkaderan, maka menyoal PMII tidak lengkap bila tidak berbicara perihal pengkaderan. Beberapa waktu lalu penulis membaca tulisan sahabat yang juga senior penulis, sahabat Muhammad Zainal Abidin yang membahas “kader PMII yang sok kekiri-kirian”,  dalam tulisannya beliau mengatakan bahwa PMII dalam spektrum  idelogis termasuk tengah (moderat) yang pancasilais tidak kiri ataupun kanan maka melakukan perlawanan terhadap dzulm (keadilan) tidak harus mendaku sebagai kiri – marxis dan sebagainya. Karena Muhammad SAW dulu ketika berdakwah sudah memberikan suri tauladan sebuah perlawanan melawan kaum mustakbirin dalam memperjuangkan kaum mustadhl’afin untuk membangun masyarakat egaliter.

Dalam spektrum ideologis Pancasila adalah kiri, seperti yang dikatakan Bung Karno dalam sidang Kabinet Dwikora tanggal 6 November 1965 Bung Karno marah besar terhadap beberapa pihak yang berupaya merubah haluan Pancasila menjadi kanan. “Pancasila adalah kiri,” pekik Bung Karno, karena menurutnya Pancasila anti inperealisme, eksploitasi (uit-buiting). Menurutnya, kiri adalah menghendaki suatu masyarakat yang adil dan makmur, yang di dalamnya tidak ada kapitalisme, tidak ada lagi exploitation de I’homme par I’homme—penghisapan manusia atas manusia. eksploitasi (uit-buiting). Bung Karno sadar, Indonesia merdeka bukanlah jaminan rakyat Indonesia akan terbebas dari eksploitasi. Terlebih, jika Indonesia sudah merdeka, masih ada kelompok “kapitalis bangsa sendiri” dan kaum ningrat yang berkeinginan menjadi “penindas baru”. Bung Karno selalu mengingatkan bahwa Indonesia merdeka hanyalah “jembatan emas”. Frase “jembatan emas” ini menyiratkan kemerdekaan hanyalah “fase prasyarat” atau “tahapan” menuju tujuan yang lebih tinggi.

Proses pemerdekaan hanyalah upaya penciptaan gedung bernama “Indonesia Merdeka”, yang di dalamnya tidak ada lagi penindasan dari eksternal, yakni kolonialisme, tetapi di dalamnya ada perjuangan menghapuskan imperialisme dan kapitalisme. Sebab, syarat mewujudkan masyarakat adil dan makmur adalah penghapusan imperialisme dan kapitalisme. .

Maka jelaslah Pancasila yang dikehendaki founding father’s  adalah pancasila yang kiri. Pertanyaan besar yang ada dibenak kita apakah pengamalan Pancasila hari ini sudah sesuai dengan apa yang dikehendaki Bung Karno ? Atau jangan-jangan kita secara tidak sadar masih terjajah oleh sebagian Bangsa kita sendiri?. Isu-isu aliran Islam Ektsrimis yang berusaha  mengganti ideologi Pancasila  belakangan berkembang sedikit sedikit banyak menguras tenaga PMII, hal itu bisa dimaklumi karena PMII secara akar historis, ideologi dekat dan hari ini sudah kembali menjadi badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) ormas terbesar di Indonesia yang punya “saham” besar terhadap proses perjuangan kemerdekaan Indonesia,maka sebuah panggilan jiwa bagi segenap kader PMII jika pancasila berusaha di “goyang”.

Efek dari terkurasnya tenaga PMII menghadapi isu-isu “populis” tersebut membuat kita lupa bahwa ada isu yang menurut penulis lebih urgent untuk dikawal, semisal beberapa kasus agraria dibeberapa tempat yang jarang tereskspos oleh media mainstream semisal kasus tukar guling lahan oleh petani Surokonto Wetan dan Perhutani (Kyai Aziz Rais Syuriah ranting Surokonto Wetan dikriminalisasi), perampasan lahan untuk tambang emas oleh PT. Bumi Suksesindo (PT. BSI) dan PT. Damai Suksesindo (PT. DSI) kepada warga setempat, pelanggaran HAM di Papua yang hingga hari ini masih terjadi, kesemua kasus tersebut butuh pengawalan intens dan istiqomah.

Dalam kasus Surokonto Wetan misalnya bagaimana salah satu tokoh kyai yang dikriminalisasi adalah nahdliyyin bahkan Rais Syuiah Ranting, hal ini tidak sedikitpun menggugah sikap NU maupun PMII secara struktural untuk menyatakan sikap dan pembelaan kecuali segelintir anak muda NU dan kader PMII yang ikut terjun mengawal, sangat disayangkan memang ketika nama besar NU dan PMII tidak digunakan sebagaimana komitmenya terhadap  syuun ijtimaiyyah, dan keadilan sosial.


Menjadi kader PMII Progesif

Penulis teringat tulisan sahabat Nasirulhaq kader PMII Ciputat yang mengutip wawancara Gus dur  tahun 1991 ketika ditanya mengapa tidak ikut gabung ICMI beliau menjawab karena ingin “mengurusi Islam kaki lima”. Lebih lanjut Nasirulhaq berpendapat Bagaimanapun, cepat atau lambat, NU dan PMII harus meneguhkan kembali komitmennya terhadap keadilan sosial, pemerataan, dan pemberdayaan. Jika tidak, seperti yang sudah diungkapkan Gus Dur pada tahun 1980-an, keberadaan keduanya niscaya tak relevan, dan berhenti pada taraf sebagai “penjaga NKRI”, seperti retorika yang sering digaungkan selama ini.

Penulis sepakat bahwa NKRI dan Pancasila adalah final, tapi untuk pengejawentahan nilai –nilai Pancasila penulis tidak sepakat kalau itu dikatakan final. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu PMII kawal. Jika menilik tafsir Bung Karno atas Pancasila seharusnya kasus-kasus agraria yang melibatkan Negara tidak terjadi, mengembalikan Pancasila kembali ke haluannya inilah tugas kita bersama.

Penulis sama sekali tidak mempermasalahkan kader-kader PMII yang mendaku kiri, toh itu bagian dari sebuah fase proses sebuah kader, spektrum diskursus PMII yang luas membuat  setiap kader melek terhadap wacana –wacana ideologi dan dengan tradisi liberasi kader bebas menentukan dimana posisi sikapnya sekarang, hari ini dan esok. Maka mendaku kiri bagi kader PMII tidaklah aneh dan tidak perlu dikhawatirkan, sama seperti awal kader ikut MAPABA dengan tujuan memperbanyak teman, atau mencari pacar, hingga suatu saat dia akan sadar bahwa menjadi kader PMII semata-mata berjuang untuk perubahan sosial kearah yang lebih baik. Tidak masalah mendaku kiri asalkan tidak seperti yang dikatakan sahabat Moh Zainal Abidin kader yang sok kekiri-kirian.

Wallahu’alam.




Fathan Zainur Rosyid

kader PMII rayon Syariah dan Hukum



Tertarik dengan artikel "Pentingnya Kader PMII Mendaku “kiri”" ini?
Klik link ini untuk melihat artikel yang bertema Ke-PMII-an lainnya.

COMMENTS

BLOGGER: 3
Loading...
Name

agenda,12,artikel,44,bincang,2,cyberia,4,ke-pmii-an,18,kebangsaan,2,Opini,31,pendaftaran,1,pendidikan,1,PMIITV,6,pustaka,9,rilis,5,warta,8,
ltr
item
PMII Semarang: Pentingnya Kader PMII Mendaku 'Kiri'
Pentingnya Kader PMII Mendaku 'Kiri'
Penulis sama sekali tidak mempermasalahkan kader-kader PMII yang mendaku kiri, toh itu bagian dari sebuah fase proses sebuah kader.
https://1.bp.blogspot.com/-2IU3lGjsqUU/WhJR_64uk5I/AAAAAAAAAoA/7kFTqQZLqqE1NOgM0ZB1kH_l3E2UXdXdwCLcBGAs/s640/Pentingnya%2BKader%2BPMII%2BMendaku%2B%25E2%2580%259Ckiri%25E2%2580%259D.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-2IU3lGjsqUU/WhJR_64uk5I/AAAAAAAAAoA/7kFTqQZLqqE1NOgM0ZB1kH_l3E2UXdXdwCLcBGAs/s72-c/Pentingnya%2BKader%2BPMII%2BMendaku%2B%25E2%2580%259Ckiri%25E2%2580%259D.jpg
PMII Semarang
https://www.pmiisemarang.or.id/2017/11/pentingnya-kader-pmii-mendaku-kiri.html
https://www.pmiisemarang.or.id/
https://www.pmiisemarang.or.id/
https://www.pmiisemarang.or.id/2017/11/pentingnya-kader-pmii-mendaku-kiri.html
true
4367216603084741449
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy